Rakyat Aceh | Banda Aceh – Ernidawati (44), warga Lhok Bengkuang, Kota Tapaktuan, Aceh Selatan, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan Rumah Singgah Tuan Tapa Aceh Selatan yang berada di Jalan Metro, Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Keberadaan rumah singgah tersebut menjadi penopang utama bagi dirinya dan keluarga selama menjalani pengobatan intensif di Banda Aceh.
“Alhamdulillah, kami sangat terbantu dan tertolong. Sebenarnya kami sudah lama berobat dan sudah berulang kali bolak-balik ke Banda Aceh, selama ini tinggal di rumah kawan,” ujar Ernidawati saat diwawancarai, Rabu (28/1), di Rumah Singgah Tuan Tapa.
Ia menuturkan, sejak awal menderita sakit pembengkakan di tenggorokan, kondisinya cukup berat hingga mengharuskan tindakan medis intensif. Pada fase awal perawatan, ia dipasangi selang pernapasan untuk membantu proses bernapas.
“Pertama sekali kami pasang selang pernapasan. Setelah itu, makan juga harus melalui selang karena tidak bisa menelan makanan secara normal,” katanya yang didampingi Suami Jawahir (50).
Kondisi tersebut membuat Ernidawati hanya bisa mengonsumsi makanan tertentu. Nasi dan sayur-sayuran harus diblender dan dicampur dengan banyak air agar dapat masuk melalui selang.
“Selain makanan bayi, nasi dan sayur-sayuran diblender. Banyak airnya supaya bisa masuk lewat selang,” ungkapnya.
Perjalanan panjang dari Aceh Selatan ke Banda Aceh menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga, baik secara fisik maupun ekonomi. Jarak yang jauh serta biaya hidup selama pengobatan kerap menjadi beban berat.
“Kalau harus bolak-balik ke rumah sakit dari kampung, jaraknya jauh sekali. Capek di jalan dan biayanya juga berat,” ujarnya.
Ernidawati mengaku, keberadaan Rumah Singgah Tuan Tapa sangat membantu, tidak hanya sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga dalam hal akses layanan kesehatan.
“Kalau mau ke rumah sakit, tinggal telepon. Pagi atau malam tetap dijemput. Itu sangat membantu kami,” tuturnya.
Seiring waktu, kondisi Ernidawati mulai membaik. Saat ini, ia sudah tidak lagi menggunakan selang pernapasan, meski masih harus makan dengan bantuan selang.
“Sekarang sudah lebih baik. Selang pernapasan sudah tidak dipakai lagi,” jelasnya.
Di tengah perjuangan melawan penyakit, Ernidawati tetap memikirkan keluarganya. Suaminya sehari-hari bekerja sebagai penjual ikan keliling dengan penghasilan terbatas. Mereka memiliki tiga orang anak yang masih menempuh pendidikan.
“Anak pertama kelas 1 SMA, yang kedua kelas 1 SMP, dan yang bungsu kelas 5 SD,” katanya.
Ia mengaku bersyukur karena anak-anak tetap bisa melanjutkan sekolah meski kondisi ekonomi keluarga terbatas.
“Alhamdulillah, kami bersyukur sekali. Anak-anak masih bisa sekolah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Diketahui, Ernidawati telah menjalani kemoterapi sebanyak lima kali dan dijadwalkan kembali menjalani kemoterapi keenam pada Kamis (hari ini, red) di RSUZA Banda Aceh. Ia berharap pengobatan yang dijalaninya berjalan lancar dan kondisinya terus membaik.
“Harapan kami cuma satu, semoga diberi kesembuhan dan bisa kembali berkumpul sehat bersama keluarga,” ungkapnya.
Pada kesempatan ini, Erni sangat Apresiasi dan ucapan terimakasih kepada Bupati dan wabup Aceh Selatan atas program Rumah Singgah di Banda Aceh selama ini yang belum pernah dirasakan kenyamanan.
“Ini program pak Bupati dan Wakil Bupati sangat bagus dan kami rasakan sendiri, untuk sewa penginapan tidak ada uang,” jelasnya.
Lanjutnya, sebagai masyarakat berharap Bupati H.Mirwan MS cepat kembali untuk memimpin Aceh Selatan dan masyarakat sangat membutuhkan beliau yang besar sekali perhatian untuk warga yang kurang mampu.
(rus)
Tulisan ini telah tayang di harianrakyataceh.com dengan judul “Rumah Singgah Tuan Tapa Hadir, Pasien Merasa Terbantu Selama Menjalani Pengobatan Intensif “, klik untuk baca: https://harianrakyataceh.com/news/rumah-singgah-tuan-tapa-hadir-pasien-merasa-terbantu-selama-menjalani-pengobatan-intensif/index.html