Award Winners

Gaya Politik Pengendali Dunia Donald Trump dan Langkah Bijaksana Presiden Prabowo 

Gaya Politik Pengendali Dunia Donald Trump dan Langkah Bijaksana Presiden Prabowo 
  Aceh Analisa

Gaya Politik Pengendali Dunia Donald Trump dan Langkah Bijaksana Presiden Prabowo

Oleh: Thayeb Loh Angen
Penyair dari Sumatra

Politik keamanan dunia saat ini tengah digoyang-goyang oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Donald John Trump), yang pada masa keduanya menjabat (2025-2029), melakukan segala hal yang tertunda pada era pertamanya sebagai presiden. Slogan ”Make Amerika Great Again” benar-benar dijalankannya, dengan menepis beberapa kritik dan hukum internasional.

Donald Trump bukan orang terkaya di Amerika atau dunia, tetapi dari sudut pandang kapitalisme, dia merupakan salah satu orang kaya yang benar-benar tahu cara memanfaatkan kekayaannya secara baik dan berhasil membawa gaya itu ke dalam dunia politik, di saat banyak pengusaha dan politikus lain gagal melakukannya.

Sebagai seorang pengusaha, Donald Trump berdagang, dia ingin keuntungan dengan berbagai cara yang memungkinkan. Saat menjadi presiden Amerika Serikat, maka dia ingin negaranya mendapatkan keuntungan besar—yang hanya dapat dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat– dengan segala keunggulannya, yang menurutnya, tidak dimanfaatkan secara baik oleh pendahulunya, yang merupakan seorang politisi saja, bukan pengusaha besar sepertinya.

Donald Trump menyadari bahwa Amerika Serikat memiliki seluruh syarat sebagai negara superpower (adidaya), yaitu pengendali ekonomi dunia, memiliki angkatan perang terkuat di muka bumi saat ini, menjadi rujukan budaya dan rujukan ilmu pengetahuan dunia.

Donald Trump menilai bahwasanya, selama ini, Amerika Serikat telah terlalu pemurah dan lembik terhadap semua negara, sementara negaranya adalah pemenang perang dunia II, negara lain cuma pelengkap. Donald Trump ingin memanfaatkan itu, sebelum terlambat.

Dengan sudut pandang superior seperti itu, maka menculik kepala negara lain yang membangkang, seperti menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro Moros, adalah sah baginya. Hal serupa dia lakukan pada jabatan pertamanya, menembak mati pemimpin militer Iran, Jenderal Qasem Soleimani. Peran PBB juga diabaikannya.

Donald Trump tidak akan melancarkan perang tradisional seperti George Bush menyerang Irak. Dia tidak ingin Amerika Serikat rugi dengan membuang-buang peluru dan operasional militer yang mahal tapi tidak ada uang yang masuk sebagai gantinya. Melancarkan perang secara tradisional akan merugikan Amerika Serikat, walaupun negara musuhnya hancur.

Trump ingin negaranya menang besar dan mendapatkan keuntungan yang banyak. Jika tidak mendapatkan keuntungan, itu bukanlah kemenangan, begitulah prinsipnya, prinsip pengusaha yang menjadi presiden negara superpower.

Baginya, penggunaan militer Amerika Serikat harus menguntungkan secara ekonomi, bukan saja nama besar dan propaganda militer. Oleh karena itu, dia melihat bahwasanya, mendukung Ukraina yang melawan Rusia itu merugikan Amerika Serikat. Dia ingin perang tersebut segera berhenti dan negaranya mendapatkan keuntungan dari perang itu, yang sebelumnya telah merugi banyak karena memberikan bantuan militer secara cuma-cuma.

Baca Juga  Cerita Petani Anggur Duyu Bangkit: Reforma Agraria Tak Hanya Soal Tanah, tapi Juga Kemandirian

Menggunakan militer Amerika Serikat untuk negara lain hanyalah kebodohan, oleh karena itulah dia menarik seluruh pasukan Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak pada masa periode pertamanya menjadi presiden.

Sepertinya, Donald Trump ingin menembakkan banyak “peluru ke atas” untuk keuntungan Amerika Serikat. Bukan sekedar menunjukkan kekuatan militer dengan menembak orang secara langsung, tapi berdagang. Trump tidak ingin sebutir peluru pun sia-sia. Memang itu tidak mudah, tetapi Donald Trump dapat melakukannya.

Dengan menyadari sikap Donald Trump, maka timbul pertanyaan, benarkah  Amerika Serikat punya kepentingan terhadap Iran, ataukah ancaman perang itu merupakan hasil sabotase pihak lain supaya bisa menggunakan kekuatan negara adidaya tersebut untuk menghancurkan musuhnya. Siapakah musuh Iran yang sebenarnya di Kawasan timur tengah. Sementara Amerika Serikat itu berada jauh di Seberang Samudra Atlantik ke barat.

Dengan sudut pandang ini, jika Donald Trump yang menjadi presiden Amerika Serikat saat perang Vietnam atau Irak, maka perang itu tidak akan pernah terjadi. Namun, yang terjadi adalah negara adidaya itu akan semakin kaya dengan menakuti-nakuti negara di sekelilingnya seperti Thailand, Laos, Kamboja, Malaysia, Indonesia.

Dengan memahami itu, maka Donald Trump tidak mungkin menyerang Iran sebagaimana disorak-sorakkannya itu. Ini persis yang terjadi pada masa pertamanya menjadi presiden Amerika Serikat, dia menggertak Kim Jong-un, hanya untuk mengambil keuntungan ekonomi dan militer dari Asia timur dan timur tengah.

Donald Trump hanya menakut-nakuti secara nyata dan langsung, setelah korbannya merasa ketakutan, maka negara lain (Sekutu Amerika Serikat di timur tengah dan lainnya, bukan Iran, karena Iran telah bersikap nekat) akan membayarnya dengan mahal. Jadi, Amerika akan mendapatkan keuntungan yang besar lagi. Itu perdagangan yang murah dan mendapatkan keuntungan yang banyak baginya. Kalau dia melancarkan perang secara tradisional, maka rugilah dia.

Jika begitu keadaannya, maka timbullah pertanyaan, mengapa negara lain harus takut jika Amerika hanya menakut-nakuti?

Jawabnya sederhana. Secara manusiawi, jika Anda masih waras, maka akan sangat sulit untuk tidak merasa takut jika ribuan tentara Amerika Serikat yang yang terlatih dan berpengalaman bertempur itu mengarahkan ribuan peluru kendali dengan jari di pelatuk seraya senjata itu menghadap tepat ke pintu rumah Anda, disertai ancaman mematikan setiap hari dari presidennya yang bermain ala pemandu pertandingan smackdown. Anda boleh tidak takut, jika Anda juga memiliki ribuan senjata nuklir seperti Rusia, juga Tiongkok dalam urutan selanjutnya.

Baca Juga  Wira Kesuma Unggul Mutlak, Resmi Pimpin Gampong Kemuning Peureulak (2025–2031)

Kebijaksanaan Presiden Prabowo Subianto

Dengan menyadari gaya Presiden Donald Trump, maka kebijaksanaan Presiden Prabowo Subianto memasukkan Indonesia ke dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) adalah langkah yang gron (keren), sesuai dengan prinsip politik luar negeri Indonesia.

Memasukkan Indonesia ke dalam Board of Peace milik Donald Trump akan  menempatkan Indonesia sebagai sejawat negara superior Amerika Serikat, juga menjadi langkah bijaksana Presiden RI, yang sebelumnya juga terbuka menerima penaikan pajak ekspor dari Amerika Serikat.

Hal itu menjadi langkah bijaksana Presiden Prabowo Subianto mengingat sebelumnya Indonesia dimasukkan ke dalam BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) yang tidak disukai Amerika Serikat.

Prinsip politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif, yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. “Bebas” berarti Indonesia tidak memihak blok kekuatan dunia tertentu, sedangkan “aktif” berarti berkontribusi aktif dalam perdamaian dunia, kemerdekaan, dan keadilan sosial, dengan tujuan utama mengabdi pada kepentingan nasional.

Dengan memasukkan Indonesia ke dalam Dewan Perdamaian, berarti Presiden Prabowo telah menjalankan UUD 1945 secara menggembirakan, seraya menempatkan Indonesia dalam papan catur politik internasional secara langsung.

Sebagai negara terbesar dan terkuat di Asia Tenggara, Indonesia memang membutuhkan kampanye tersebut seraya menghindari benturan yang tidak perlu dengan negara raksasa yang tengah mengayunkan tamparannya ke segala arah tanpa pandang hubungan sebelumnya seraya tertawa-tawa dan membentak secara bergantian.

Kebijaksanaan Presiden Prabowo menjalin hubungan baik dengan negara kuat seperti Amerika Serikat, Turkiye, dan lainnya, akan mengangkat kembali nama Indonesia di papan promosi internasional, sebagai negara adidaya di Kawasan Asia Tenggara, sebagaimana negara Turkiye merupakan  negara superpower di Kawasan Timur Tengah.

Dengan demikian, Indonesia akan terus menjadi negara yang stabil di antara permainan para raksasa di sebelah lautan di timur dan barat. Kita dapat memahami kekhawatiran tentang keamanan menyeluruh mengingat ada beberapa pangkalan militer Amerika Serikat mengepung Indonesia melalui jaringan pangkalan strategis di kawasan Indo-Pasifik, terutama di Diego Garcia (Samudra Hindia), Darwin (Australia), Guam, Filipina, dan Singapura.

Baca Juga  Percepatan Ganti Rugi TKD Tol Sibanceh: Kantor Pertanahan dan DPMG Perkuat Sinergi Lintas Lembaga

Perhatian pada kestabilan politik dan keamanan Indonesia juga perlu diperdalam dengan adanya AUKUS, sebuah pakta keamanan trilateral antara Australia, Britania Raya, dan Amerika Serikat, didirikan pada tahun 2021, dengan program berfokus pada penyediaan kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia dan pengembangan teknologi canggih bawah laut. AUKUS dibentuk untuk membendung pengaruh militer Tiongkok di Kawasan Asia Pasifik.

Indonesia dikelilingi oleh kekuatan militer sedemikian besar sehingga kita membutuhkan presiden yang memahami strategi keamanan nasional di dalam perpolitikan dunia, seperti Presiden Prabowo Subianto yang visioner.

Secara konvensional, dengan gaya politik bebas aktif, memang negara-negara bersenjata nuklir itu tidak akan menyerang Indonesia, tetapi jika mereka mengujicobakan senjata itu, misalnya mereka berlatih perang saja dengan senjata itu di tepian perairan Indonesia, maka hal tersebut akan menjadi masalah besar bagi kita.

Itu baru berlatih perang, apalagi jika mereka benar-benar berperang, kita akan mendapatkan “hadiah” serpihan ‘’peluru nyasar’, kalau peluru dari senapan biasa masih ada harapan hidup, tetapi tidak jika itu peluru kendali berdaya ledak nuklir dari kapal selam bertenaga nuklir.

Dengan demikian, Indonesia memiliki kepentingan untuk menjaga kestabilan politik dan keamanan di Asia Pasifik, bukan saja untuk menampilkan diri sebagai negara adidaya di kawasan Asia Tenggara, tetapi lebih demi keamanan nasional sendiri, menghindari sesuatu yang disebutkan di dalam pepatah bangsa, “Gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”.

Indonesia perlu menjaga supaya kedua gajah itu jangan bertarung karena mereka berada tepat di sisi pagar keliling kebun kita.

Kembali ke Presiden Amerika Serikat. Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, dapat diperkirakan, setelah mengendalikan timur tengah kembali, yaitu menekan penentang seperti Iran, mengusir pengaruh Tiongkok yang dianggapnya telah terlalu lama didiamkan, maka Donald Trump akan membersihkan Afrika dan timur jauh secara langsung dari pengaruh Tiongkok.

Walaupun perpolitikan dunia bisa berubah secara cepat sedemikian itu dengan ancaman peperangan, tetapi pastinya kita perlu memusatkan perhatian pada program yang membanggakan, yaitu program Indonesia Emas 2045, yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto yang visioner.

dikutip dari :
Gaya Politik Pengendali Dunia Donald Trump dan Langkah Bijaksana Presiden Prabowo – Portalsatu.com