Award Winners

Ramadhan dan Masjid, Jangan Hanya Datang di Awal Saja 

Ramadhan dan Masjid, Jangan Hanya Datang di Awal Saja 
  Aceh Analisa

Oleh Afrizal Refo, MA


HARIANREPORTASE.com — Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu dirindukan umat Islam. Setiap kali mendengarkan pengumuman dari pemerintah bahwa akan dimulainya bulan Ramadhan, hati kaum Muslimin bergetar bahagia.

Masjid-masjid yang sebelumnya lengang mendadak ramai. Shalat Isya dan Tarawih dipenuhi jamaah, suara tilawah Al-Qur’an menggema, dan suasana religius terasa begitu hidup.

Ramadhan dan masjid adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Di dalam masjid, kita melaksanakan shalat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, mendengarkan tausiyah, hingga berbuka puasa bersama. Semua itu membentuk suasana spiritual yang sulit ditemukan di tempat lain.

Karena itu, menjauhi masjid di bulan Ramadhan berarti melewatkan banyak kesempatan emas untuk meraih pahala dan keberkahan.

Namun ada satu fenomena yang hampir selalu berulang setiap tahun yaitu semangat itu sering hanya terasa di awal Ramadhan. Masjid penuh di malam pertama, saf-saf rapat hingga ke pelataran. Tetapi ketika hari-hari berlalu, jumlah jamaah mulai berkurang. Semangat yang menyala di awal perlahan meredup.

Karena itu Ramadhan dan masjid seharusnya tidak hanya dipertemukan di awal saja. Justru yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga konsistensi hingga akhir bulan yang penuh keberkahan ini.
Masjid di Masa Rasulullah

Sejak zaman Nabi Muhammad, masjid bukan sekadar tempat shalat. Masjid adalah pusat peradaban. Di sanalah umat belajar, berdiskusi, menyusun strategi, menyelesaikan persoalan sosial, hingga mempererat ukhuwah. Masjid menjadi jantung kehidupan umat.

Ramadhan pada masa Rasulullah ﷺ juga dihidupkan dengan berbagai aktivitas ibadah. Qiyamul lail ditegakkan, Al-Qur’an ditadabburi, dan sedekah diperbanyak. Bahkan pada sepuluh malam terakhir, beliau semakin mengencangkan ibadahnya dan beri’tikaf di masjid.

Ini menjadi pelajaran penting: Ramadhan bukan hanya tentang semangat sesaat, tetapi tentang peningkatan kualitas ibadah secara berkelanjutan.

Baca Juga  Amalan Utama Ramadhan, Ceramah Prof. Rahmat Fadhil di USK 

Mengapa Masjid Hanya Ramai di Awal?

Ada beberapa alasan mengapa sebagian orang hanya bersemangat di awal Ramadhan:

1. Euforia awal bulan suci Ramadhan.
Antusiasme menyambut Ramadhan membuat banyak orang berbondong-bondong ke masjid.

2. Kurangnya komitmen pribadi
Ibadah belum menjadi kebutuhan ruhani, melainkan masih sebatas momentum.

3. Kelelahan fisik dan rutinitas kerja
Seiring berjalannya waktu, rasa lelah menjadi alasan untuk mulai absen.

4. Tidak ada target ibadah yang jelas
Tanpa perencanaan, semangat mudah menurun. Padahal, nilai Ramadhan bukan diukur dari kuatnya start, tetapi dari bagaimana kita menutupnya dengan kualitas terbaik.

Ramadhan Adalah Proses, Bukan Ledakan Sesaat

Ramadhan melatih kesabaran dan konsistensi. Puasa dilakukan sebulan penuh bukan hanya tiga hari pertama. Demikian pula hubungan kita dengan masjid. Jika di 10 awal Ramadhan kita mampu hadir setiap malam untuk Tarawih, mengapa di pertengahan mulai mencari alasan?

Masjid adalah tempat kita memperbaiki diri. Di dalamnya ada shalat berjamaah yang pahalanya berlipat, ada kajian yang menambah ilmu, ada tadarus yang menenangkan hati dan ada kebersamaan yang memperkuat ukhuwah. Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi ajang “datang, ramai, lalu hilang”.

Menjaga Semangat Hingga Akhir

Agar tidak hanya hadir di awal Ramadhan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Tetapkan target pribadi.
Misalnya berkomitmen tidak meninggalkan shalat Tarawih berjamaah kecuali ada uzur syar’i.

2. Buat jadwal ibadah.
Tentukan waktu khusus untuk tadarus di masjid, mengikuti kajian, atau i’tikaf di sepuluh malam terakhir.

3. Ajak keluarga dan sahabat.
Semangat akan lebih terjaga jika dilakukan bersama.

4. Ingat keutamaan akhir Ramadhan.
Sepuluh malam terakhir memiliki keutamaan besar, termasuk malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Baca Juga  Puluhan Organisasi Pers Aceh Timur Bersatu Gelar Maulid Nabi: Perkuat Semangat 'Rahmatan Lil ‘Alamin'

Sering kali justru di akhir Ramadhanlah rahmat Allah paling luas terbuka. Maka sungguh merugi jika kita justru melemah ketika pahala besar sedang menanti.

Jangan Hanya Ramadhan

Lebih dari itu Ramadhan seharusnya menjadi titik balik. Jika selama sebulan kita mampu rajin ke masjid, mengapa setelah Ramadhan justru kembali menjauh?
Ramadhan adalah madrasah ruhani. Ia melatih disiplin, kesabaran, dan ketekunan. Kebiasaan baik yang dibangun selama bulan suci seharusnya berlanjut di bulan-bulan berikutnya.

Masjid bukan hanya milik Ramadhan. Ia adalah rumah Allah yang terbuka setiap waktu.

Semoga Ramadhan tahun ini bukan hanya membuat masjid penuh di malam pertama tetapi penuh hingga malam terakhir. Dan semoga setelah Ramadhan berlalu, kaki kita tetap ringan melangkah menuju masjid membawa hati yang semakin dekat kepada Allah. Wassalam

Penulis adalah Dosen PAI IAIN Langsa dan Sekretaris Umum Dewan Dakwah Kota Langsa