Award Winners

Amalan Utama Ramadhan, Ceramah Prof. Rahmat Fadhil di USK 

Amalan Utama Ramadhan, Ceramah Prof. Rahmat Fadhil di USK 
  Aceh Analisa

Banda Aceh, HARIANREPORTASE.com Malam ketiga Ramadhan 1447 H di Universitas Syiah Kuala terasa begitu syahdu. Masjid Jamik Universitas Syiah Kuala dipenuhi ratusan jamaah—mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga masyarakat umum—yang datang bukan hanya untuk menunaikan shalat tarawih, tetapi juga untuk menguatkan ruh dan menata kembali arah kehidupan.

Sebelum tarawih dimulai, suasana hening dan khusyuk menyelimuti masjid saat Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc. menyampaikan tausiyahnya. Dengan gaya tutur yang tenang namun menggugah, beliau mengajak jamaah memaknai Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum besar untuk bertransformasi diri.

“Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menyusun ulang prioritas hidup kita. Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan nyata dalam diri,” pesannya penuh penekanan.

Bagi beliau yang juga menjabat sebagai Ketua BKM Al Wustha Jeulingke, Ramadhan adalah madrasah ruhani—tempat jiwa ditempa, karakter dibentuk, dan kualitas hubungan dengan Allah SWT ditingkatkan.

Menurutnya, paling tidak ada Lima Amalan Kunci Menuju Ramadhan Berkualitas. Dalam ceramahnya, Prof. Rahmat merumuskan lima pilar utama yang dapat menjadi kompas spiritual selama Ramadhan.

Pertama, menegakkan shalat dengan lebih sempurna.

Shalat adalah fondasi keislaman. Di bulan suci ini, kualitas shalat seharusnya naik satu tingkat—lebih tepat waktu, lebih khusyuk, dan lebih berjamaah. Ia mengingatkan pentingnya kaum laki-laki menghidupkan masjid melalui shalat berjamaah, serta mengoptimalkan shalat sunnah seperti qabliyah, ba’diyah, dhuha, tahajud, dan witir.

“Jika Ramadhan saja belum mampu menguatkan shalat kita, maka di luar Ramadhan akan terasa jauh lebih berat,” ujarnya mengajak introspeksi.

Kedua, menghidupkan jiwa dengan Al-Qur’an.

Ramadhan adalah Syahrul Qur’an—bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, interaksi dengan kitab suci tidak boleh sekadar formalitas. Prof. Rahmat mendorong jamaah untuk menargetkan khatam, tetapi lebih dari itu, mentadabburi dan mengamalkan pesan-pesannya.

Baca Juga  Ramadhan dan Masjid, Jangan Hanya Datang di Awal Saja 

“Ramadhan tanpa Al-Qur’an adalah tubuh tanpa ruh,” tegasnya. Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi dihidupkan dalam sikap, keputusan, dan etika sehari-hari.

Ketiga, membiasakan istighfar, membuka pintu keberkahan.

Ramadhan adalah bulan ampunan. Lisan yang ringan beristighfar menjadi tanda hati yang rendah dan sadar akan kelemahan diri. Ia mengisahkan teladan para ulama terdahulu yang menjadikan istighfar sebagai kebiasaan hingga mendatangkan keberkahan hidup.

“Istighfar bukan sekadar memohon ampun, tetapi juga jalan dibukanya rezeki dan dimudahkannya urusan,” jelasnya.

Keempat, memperkuat doa di waktu-waktu mustajab.

Saat berbuka dan di sepertiga malam terakhir, langit seakan lebih dekat. Pada waktu-waktu itulah seorang hamba dianjurkan memperbanyak doa—memohon rezeki halal, keluarga sakinah, anak-anak yang shalih dan shalihah, kesehatan, serta keberkahan hidup.

“Berdoalah dengan sungguh-sungguh. Saat kita berdoa, kita sedang menegaskan posisi kita sebagai hamba dan Allah sebagai Rabb,” ungkapnya menyentuh.

Kelima, menggandakan sedekah, mengalirkan manfaat.

Meneladani Rasulullah SAW yang kedermawanannya semakin melimpah di bulan Ramadhan, Prof. Rahmat mengajak jamaah memperhebat sedekah. Harta yang dititipkan Allah bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagikan.

“Keberkahan bukan diukur dari banyaknya harta, melainkan dari luasnya manfaat,” pesannya penuh makna. Sebagaimana hadist nabi yang menyatakan bahwa barang siapa yang tidak sayang, maka akan tidak disayang oleh Allah SWT. Maka bersedekah adalah salah satu bentuk iktikad kasih sayang kita kepada sesama hamba-Nya.

Ramadhan sebagai Titik Balik

Tausiyah malam itu bukan sekadar nasihat, tetapi ajakan untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik balik kehidupan. Lima amalan tersebut—shalat, Al-Qur’an, istighfar, doa, dan sedekah—adalah paket lengkap pembentuk pribadi bertakwa.

Prof. Rahmat menutup ceramahnya dengan optimisme: jika lima amalan ini dijaga secara konsisten, maka Ramadhan akan melahirkan pribadi yang lebih kuat iman, lebih lembut hati, dan lebih peduli kepada sesama.

Baca Juga  Pastikan Ekonomi Singkil Pulih, Mualem dan Dirut Bank Aceh Tinjau Langsung Kesiapan Layanan Pasca Banjir

Usai tausiyah, shalat tarawih dan witir berlangsung khusyuk dengan imam Ust. Takdir Feriza Hasan, qari internasional asal Aceh. Lantunan ayat suci yang merdu menggetarkan relung hati jamaah, menambah kehangatan spiritual di kampus yang dikenal sebagai Jantong Hate Rakyat Aceh.

Malam itu menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah individual, tetapi juga tentang membangun atmosfer kebaikan bersama. Dari masjid kampus, cahaya spiritualitas diharapkan terus menyala—menginspirasi lahirnya generasi akademisi yang unggul dalam ilmu dan kokoh dalam iman.

Ramadhan adalah peluang emas. Sudahkah kita memanfaatkannya sepenuh hati?